Sabtu, 29 Juli 2017

Cemburu itu adalah ..

perlahan-lahan perasaan yang dulu indah sekarang menjadi biasa. itu sebab rasa rindu tidak pernah tersalurkan. karena kau asyik dengan kesibukanmu begitu juga aku. ditambah lagi kau mungkin telah temukan seseorang yang lebih mencintaimu. tanpa sepengetahuanku. tapi, apalah artinya bila aku tahu!

hubungan ini dari dulu tidak pernah mencapai kejelasan. Iyakah atau tidakkah. tak pasti. kadang suka kadang benci.

aku pernah cemburu! hanya karena kau tersenyum kepada seorang teman priamu. ditambah lagi perasaan iri mengapa dia bisa membuatmu tersenyum, semntara terhadapku senyumu seperti dipaksakan. aku yang bodoh karena tidak mengerti cara memperlakukan wanita. atau kamu yang sudah bosan denganku.

namun, terlalu bodoh bila harus blak-blakan mengatakan bahwa aku cemburu. bisa habis harga diriku. akhirnya, keputusan terbaik adalah ditahan saja. rasa-rasanya tidak terlalu sakit.

aku tunggu episode selanjutnya dari kisah ini.

Kamis, 27 Juli 2017

tetap cinta

Terkadang sikap dinginmu membuatku menebak-nebak, apa kau benar-benar mencintaiku. bukankah cinta itu penuh dengan perhatian, meskipun dengan perlakuan sepele. seperti, menanyakan kamu sudah makan belom? Hati-hati ya dijalan. kamu tahu tidak, hal itu sangat berkesan bagi seseorang yang mencintaimu.

Biasakanlah memperhatikanku, itulah yang sesungguhnya aku mau. jangan lupakan untuk memasang senyuman termanismu bila berjumpa denganku. aku selalu menyukai itu.

kau datang membawakanku makan siang, disaat perutku sudah lapar, kau memasak dengan bumbu-bumbu cinta, dengan kelembutan hatimu, masakan itu terasa nikmat dan lezat. yang pasti apapun jenis makanan asal di masak oleh seseorang yang dicintai pastilah nikmat dirasa. meski nyata, sedikit keasinan bila dirasa orang lain. begitulah cinta bekerja.

setelah kita makan siang bersama dalam suasana yang sejuk dibawah pohon mangga. kau pamit bersama kucing piaraanmu yang selalu saja mengikutimu. dulu aku menebak kau pasti seseorang yang penyayang. kulihat dari kecintaanmu pada binatang. dan hal itu benarlah adanya.

aku kembali lagi bekerja. dalam perjalanan aku menuliskan sebuah puisi. sudah menjadi kebiasaan bila tidak tahu apa yang harus dilakukan. yang pertama kali terpikirkan pasti puisi. begini bunyi puisinya, maaf kalau tidak indah, maklum puisi bagiku hanya sebuah keisengan belaka;


Ranting-ranting pada pohon mengering lalu patah diterpa angin musim panas..

Kupikir pohon itu begitu rapuh..
Mungkin lama merindukan air segar..

Tapi, cintaku tidak..

Ia menyesuaikan dengan luwes.
Diterpa angin goyang kekanan dan kiri tetap tegak berdiri..

Meski terombang ambing seperti ingin lepas dari tanah dan terbang..

Meski lama pula tak merasakan air hujan..

Tidak, cintaku utuh dan teguh ditempatnya..

Terkadang sikap dinginmu membuatku menebak-nebak, apa kau benar-benar mencintaiku. bukankah cinta itu penuh dengan perhatian, meskipun dengan perlakuan sepele. seperti, menanyakan kamu sudah makan belom? Hati-hati ya dijalan. kamu tahu tidak, hal itu sangat berkesan bagi seseorang yang mencintaimu.

Biasakanlah memperhatikanku, itulah yang sesungguhnya aku mau. jangan lupakan untuk memasang senyuman termanismu bila berjumpa denganku. aku selalu menyukai itu.

kau datang membawakanku makan siang, disaat perutku sudah lapar, kau memasak dengan bumbu-bumbu cinta, dengan kelembutan hatimu, masakan itu terasa nikmat dan lezat. yang pasti apapun jenis makanan asal di masak oleh seseorang yang dicintai pastilah nikmat dirasa. meski nyata, sedikit keasinan bila dirasa orang lain. begitulah cinta bekerja.

setelah kita makan siang bersama dalam suasana yang sejuk dibawah pohon mangga. kau pamit bersama kucing piaraanmu yang selalu saja mengikutimu. dulu aku menebak kau pasti seseorang yang penyayang. kulihat dari kecintaanmu pada binatang. dan hal itu benarlah adanya.

aku kembali lagi bekerja. dalam perjalanan aku menuliskan sebuah puisi. sudah menjadi kebiasaan bila tidak tahu apa yang harus dilakukan. yang pertama kali terpikirkan pasti puisi. begini bunyi puisinya, maaf kalau tidak indah, maklum puisi bagiku hanya sebuah keisengan belaka;


Ranting-ranting pada pohon mengering lalu patah diterpa angin musim panas..

Kupikir pohon itu begitu rapuh..
Mungkin lama merindukan air segar..

Tapi, cintaku tidak..

Ia menyesuaikan dengan luwes.
Diterpa angin goyang kekanan dan kiri tetap tegak berdiri..

Meski terombang ambing seperti ingin lepas dari tanah dan terbang..

Meski lama pula tak merasakan air hujan..

Tidak, cintaku utuh dan teguh ditempatnya..

Jumat, 21 Juli 2017

RIP Chester

Kemarin, pencinta musik barat khususnya penggemar band Linkin Park kaget mendengar kabar meninggalnya vokalis, Chester Bennington. Terlebih lagi meninggalnya karena Suicide.

walaupun saya bukan fans LP , tapi ada beberapa lagu mereka yang sering saya putar tiap hari. hal itulah mengapa saya ingin membahas tentang kasus ini.

saya pun penasaran. kira-kira mengapa dia sampai memutuskan bunuh diri? setelah baca-baca di media, jawabanya adalah karena depresi.

*****

Lalu, sedepresi apakah dia sampai-sampai bunuh diri. Sukses karir musik, uang, popularitas jelas ia dapat semua.

Menurut saya, dia kering nilai "SPIRITUALITAS", tidak memiliki pijakan nilai, tujuan, empati, kepedulian, dll yang mengarah kepada nilai-nilai ketuhanan.

Andaikan hanya ada satu nilai SPIRITUAL saja dalam dirinya, mungkin ia dapat mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Misalnya, "ingin terus membahagiakan penggemarnya dengan karya musik"

Nilai "Ingin terus membahagiakan" itu dapat membuat hidupnya lebih bermakna. dan hal itu dapat menjadi pijakan nilai yang kuat, mengapa ia harus tetap hidup. apalagi kalau ditambah, nilai-nilai kemanusiaan, ibadah, cinta keluarga. pasti ia akan merasa hidupnya lebih berarti.

Namun sayang, ia tak memiliki itu semua. ditambah lagi fakta ia juga seorang pengguna narkotika. semakin hilanglah akal sehatnya.

Tapi bagaimanapun juga, saya berhutang rasa dengan Chester. Lagunya yang berjudul, Numb, What I've done, Shadow of the day dll pernah menemani disaat bosan, jenuh atau sedih.

#RIPChester

Selasa, 18 Juli 2017

Jangan diam

aku selalu benci dengan wanita pendiam, sekaligus benci dengan diriku yang juga pendiam. tetapi aku lebih benci mengapa aku bisa mencintai wanita pendiam sepertimu. dan yang lebih aku sesali lagi adalah aku tak bisa menghilangkan bayanganmu dikepalaku. inikah yg dinamakan benci tapi cinta! lebih tepatnya aku membenci sikapmu bukan dirimu.

begitulah kamu, saat aku berinisiatif mengajakmu berbicara tentang sesuatu, tanggapanmu selalu saja dingin. kau tetap sibuk dengan layar hpmu. sepertinya kau lebih tertarik dengan teman dunia mayamu. hal-hal seperti itu-lah yang membuatku kembali mempertanyakan keputusanku mencintaimu.

suasana ketika itu sangat hening padahal ditempat itu ada dua bibir dan dua mata namun seperti tak ada tanda kehidupan. dalam hatiku berkata " berbicarah, kasih. tidak perlu banyak-banyak, hanya dengan menyebut namamu saja. nanti akan aku deskripsikan nama itu mulai dari ujung rambut sampai kaki, untuk membuktikan kalau aku sangat memperhatikanmu selama ini."

kamu pasti tidak percaya, dan terheran-heran bagaimana aku bisa mengetahui seluk belukmu hingga sedetil itu.

kasih! saat seseorang jatuh cinta, tiba-tiba ia memiliki pekerjaan sampingan menjadi mata-mata. ia akan mencari tahu semua hal tentang wanita yang disukai.

bicaralah. cinta hanya bisa terungkap lewat bahasa dan laku. Ia akan binasa bila hanya dalam hati.

aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu yang agung.
mungkin perasaanku ini juga mewakili perasaanmu. karena yang dirasakan manusia yang sama-sama pendiam memang tak jauh beda.
aku juga yakin seseorang tak benar-benar pendiam. ia hanya butuh sesuatu yang menarik hatinya. yang dapat memancing perhatianya. maka dengan sendirinya ia akan mulai bercerita tentang segala sesuatu. @Muhammadzainur

Senin, 10 Juli 2017

Di Warung mbokNem

Warung mbokNem baru saja dibuka. Masih sepi. Biasanya baru ramai setelah Isya, tapi tumben-tumbenan Cakmin dan Cakmat masih sore begini sudah ada diwarung mboknem.

" Nyambut gawe kok angele ngene, dagangan akhir-akhir ini sepi." Sambat cakMin. Sambil menggelengkan kepalanya. Seolah-olah masalahnya ini paling berat sendiri.

Diwarung mbok nem cuma ada Cakmin dan Caksomat. Dua-duanya sama-sama sedang asyik menghisap roko samsu.


"Lohh cak, sampean lagi sambat to cak? " tanya Cakmat, lalu meyedot ududnya sampai tiga kali . Asap memenuhi wajahnya hingga terlihat remang-remang oleh cakMin.

"Mboten sambat cak, saya cuman menyampaikan apa yang terjadi saja, dan kebetulan sekarang kenyataanya dagangan sepi, bojoku meteng, anaku sing neng pondok ape ujian jelas butuh biaya akeh,"

"Jangan cerita sama saya, Cak. Wong saya sama saja banyak masalahnya, sekarang ini saja bingung mau bayar utang pakai apa ke pak Wijid,"

"Terus mau cerita sama siapa? Diwarung ini kan cuma ada sampean, Cak!,"

"Hehh.. Ndek seberang dalan kui lho ono masjid. Ketoke, raine sampean-sampean iki podo kusem mikiro ndunyo, lhang wudhu terus sholat, Ceritoo ng gusti Allah wae," Timpal mboNem. Sambil memberikan dua kopi panas yang mengepul harum itu.

Belum sempet kopi disruput, adzan Isya berkumandang. Mereka berdua menuruti apa kata mbokNem untuk pergi ke masjid. Mbok nem tersenyum saja melihat mereka berlarian bersama para warga yang lain. Seakan takut sekali kehilangan pahala 27 derajat.

Setelah selesai sholat berjama'ah mereka berdua berpapasan dengan pak ustad naim. "Wajah kalian cerah sekali, masya Allah, Ada kabar gembira apa nih?" tanya pak ustad.

Cakmin dan Cakmat, saling berpandangan. Mendengar pertanyaan itu, dalam hati mereka, kabar gembira apa ya, orang lagi susah begini kok. Belum sempat menjawab dan bercerita pak ustad Romli pamit pergi buru-buru untuk menghadiri kenduri dirumah Pak Wijid.


Minggu, 09 Juli 2017

Pak Dang dan Sepatu Mahal

Maaf pak Dang berdasi!! Pak kum ini hanya orang bawah. Orang biasa. Tak punya banyak uang. Hobinya ngopi sambil ngerokok diwarung kopi mbok Nem. Karena hanya itulah hiburanya. Waktu ada desas desus rokok dibuat mahal harganya, dia kaget sekali. Pagi harinya dia pergi ke sawah buat mencari sesuap nasi. Dia tidak pernah merepotkan siapapun apalagi membuat susah orang lain. Dia tak pernah ingin menjadi orang kaya, baginya rezeki sudah diatur sama yang di atas. Yang penting cukup, yang penting nerimo ing pandum." .. Pak somad mencoba membela Pak Kum dan melapangkan hati pak Dang agar mau memaafkanya.

Tetapi pak Dang masih saja terus mengumpat-nya Dan mengancam melaporkan Abdul anaknya pak Kum ke kantor polisi. Yang ketahuan nyolong sepatu pak Dang yang mengkilau dan mahal itu. Waktu dia sholat berjama'ah di masjid.

"Dasar orang miskin, gak bisa mengajari anak akhlaq dan budi pekerti." Umpat pak Dang dengan nada tinggi.

Cak Solikul yang menyaksikan drama hidup antara si kaya dan si miskin itu. Santai saja mengepulkan asap-asap rokok djarum-nya Sambil bersandar dipohon keres. Dan sesekali meloncat-loncat berusaha mendapatkan buah keres yang berwarna merah. Maklum tinggi badan cak solikul cuma 145cm. Di kepala samping kiri ada benjolan sebesar biji duren kata dia bekas dipukulin warga dahulu waktu kecil karena ketahuan nyolong. Dia sendiri heran kenapa benjolanya tidak kempes-kempes.

Setelah susah payah meloncat-loncat akhirnya dia mendapatkan keres merah itu. Lalu dilemparkanya keatas dan waktu keres meluncur kebawah mulutnya sudah siap menganga. Baginya bertingkah seperti anak kecil adalah cara paling ampuh menghilangkan kesedihan.

Dia tersenyum lalu berbicara sendiri " Pak Dang memang sangat mendalami sekali peranya sebagai orang gila harta yang sombong. Dan dia patut bersyukur dianugrahi wajah yang kereng, judes, suka melotot, cocok sekali dengan karakternya.

Sementara Pak Kumaidi, Dia orang biasa yang baik dan beradab. Cuman dia gagal mendidik anaknya menjadi anak yang beradab. Namun itu bukanlah semata-mata salah pak Kum. Itu-lah Takdir tuhan. Waktu istrinya melahirkan Abdul, jabang bayinya langsung tertawa-terawa sendiri bukanya malah menangis seperti umumnya bayi.

Seolah-olah hendak mentertawakan dunia yang materialistis ini. Yang dipenuhi orang sombong dan rakus. Kenapa ditertawakan kok bukan ditangisi? Sepertinya dia tidak mau terlihat cengeng.

Waktu remaja Abdul suka bertingkah aneh-aneh. Kopi yang pahit bukanya di kasih gula tapi digarami. Ditanya oleh ibunya, jawabnya karena kalau pahit dikasih gula pasti orang akan semakin suka dan rakus tapi kalau pahit dikasih garam orang2 pasti melepehnya. Lama kelamaan orang-orang kampung menganggapnya setengah waras.

"Sini Dul...??? Ayahnya memanggil. Dia setengah berlari.

"Kamu sekarang minta maaf sama Pak Dang? Dan katakan dimana sekarang kamu sembunyikan sepatu itu" Pak somad yang Imam masjid itu meminta dengan dengan lembut dan bijak.

"Sepatunya sudah aku lemparkan ke kali" Kata Abdul " Hehhh anak kurang ajar"Pak Dang berusaha memukul tapi dihadang oleh Pak Somad.

"Kalau pak Dang masih butuh sepatu itu, mungkin sekarang baru sampai di desa sebelah. Kita bisa mengejarnya sebelum hulu ke sungai bengawan." Kata abdul sambil sedikit tertawa.

"Hehhh jangan tertawa kau." Bentak Pak Dang semakin marah. Dan berusaha memukul tapi dihalau lagi oleh pak Somad.

Pak Dang dengan wajah cemas buru-buru menaiki motornya dan bergegas mengejar sepatu mahal-nya yang sebentar lagi hulu ke sungai bengawan yang mungkin saja hilang karena tenggelam atau nyangkut di kail pemancing.

Sementara itu Abdul Solikul (Nama lengkapnya) tertawa terpingkal-pingkal. Pak Somad dan para warga yang sedari tadi menyaksikan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Abdul. Yang memang suka mengerjai orang-orang yang gila harta.

Dul....dul...kamu memang gila "Kata salah seorang warga. Lalu ikut tertawa bersama dul. Abdul Solikul yang masih berada dibawah pohon keres itu. Mencoba mengingat-ingat kelanjutan kisah yang terjadi 40 tahun lalu itu, namun ia sudah tidak ingat lagi.